Saturday, 7 April 2018

Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi

  No comments


Globalisasi merupakan sesuatu tidak bisa terlepaskan dalam perkembangan zaman saat ini. Meskipun tidak ada pengertian yang tunggal dalam menjelaskan apa itu globalisai tetapi paling tidak secara terminologi kata globalisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang mendunia. Kata globalisasi berawal dari kata globeyang artinya dunia dan global berarti sedunia.

Dari pandangan di atas dapat dipahami secara sederhana globalisasi adalah era tanpa batas yang ditandai dengan perubahan struktur sosial dimasyarakat. Perubahan tersebut terlihat dari tingginya keterkaitan antara masyarakat dan elemen-elemen yang terjadi akibat trankulturasi melalui perkembangan teknologi dan komunikasi yang begitu cepat. Arus globalisasi juga dimaknai sebagai gerakan mendunia yang mempengaruhi pembentukan sistem dan nilai-nilai kehidupan yang mau tidak mau itu harus dihadapi.

Menurut Ulrich Beck dalam Sindhunata (2003) ada tiga penekanan sebagai kata kunci dalam memahami globalisasi diantaranya yaitu: 1) Deteritorialisasi yang berarti batas -- batas geografi ditiadakan atau tidak lagi berperan dan tidak lagi menentukan dalam perdagangan antarnegara, 2) Transnasionalisme ialah mentiadakan batas - batas geografis seperti blok - blok, 3) Mutilokal dan translokal, dimana globalisasi memberikan kesempatan bagi manusia di berbagai belahan dunia membuka horison hidupnya seluas dunia, tanpa kehilangan kelokalannya.

Berangkat dari penjelasan di atas tentunya globalisasi merupakan keniscyaan yang tak terhelakkan bagi yang mengharapkan sebuah kemajuan. Kehadiran globalisasi menutut perubahan yang mendasar bagi setiap individu dalam memandang arus globalisasi sebagai sesuatu keseharusan bukan sebagai ancaman. Dalam menjawab tantangan globalisasi maka dibutuhkan sumber daya manusia yang berkarakter handal dan berdaya saing tinggi. Untuk mewujudkannya maka disinilah pendidikan harus menampilkan diri sebagai bagian dari tantangan globalisasi tersebut. Pendidikan ditantang harus mampu mendidik dan menghasilkan para lulusan yang berdaya saing tinggi (qualified) bukan justru sebaliknya mandul dalam menghadapi gempuran berbagai kemajuan dinamika globalisasi tersebut.

Kehadiran globalisasi merupakan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Beberapa tantangan tersebut menurut Khaerudin Kurniawan (1999) diantaranya adalah:

Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan (continuing development).

Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.

Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Keempat,tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dituntut harus mampu mencetak generasi yang berkualitas sesuai dengan beberapa tantangan globalisasi di atas. Lembaga pendidikan harus bisa menyiapkan lulusan yang siap terjun dan bersaing dengan tenaga kerja asing yang telah memasuki pasar global saat ini. Ketika ini bisa diwujudkan maka angka pengangguran terdidik yang terjadi saat ini bisa ditekan secara berangsur-angsur.

Pembenahan orientasi dan sistem pendidikan perlu diurai secara serius. Ada beberapa aspek yang menjadi fokus garapan pendidikan saat ini diantaranya adalah:

1) Pendidikan hendaknya diarahkan pada proses pembentukan skill (keterampilan) yang tinggi bagi peserta didik. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran yang dilakukan diperlukan keseimbangan pembelajaran berbasis teori dan praktek.

2) Proses pembelajaran hendaknya mengedepankan pembelajaran berbasis siswa (student centre oriented).

Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan siswa menjadi mandiri sebagai bekalnya dikemudian hari.

3) Peningkatan kapasitas dan kemampuan pendidik harus menjadi priotas utama. Upaya tersebut berupa peluang yang diberikan dan memfasilitasi para pendidik untuk menambah dan mengembangkan keilmuan mereka lewat studi lanjut, pelatihan, workshop dan lain-lain.

4) Proses pendidikan juga seharusnya diarahkan pada pemberian motivasi bagi peserta didik dalam menggapai mimpinya dengan mengedepankan proses bukan hasil yang serba instan.

5) Perlu adanya kesadaran dari semua pihak tentang tanggungjawab pendidikan. Kooperatif dari orang tua, masyarakat, pemerintah serta dunia kerja sebagai stakeholders pendidikan sangatlah dibutuhkan.

No comments :

Post a comment