Wednesday, 10 February 2016

Tragedi Pompeii: Sejarah Hancurnya Kaum Sodom

  No comments
SIAPAPUN yang menentang hukum Allah dan berusaha melawan-Nya, maka akan mendapatkan murka yang sama. Pompeii merupakan symbol dari degradasi moral yang dialami kekaisaran Romawi. Tragedi Pompeii menyerupai apa yang dialami kaum Nabi Luth as. Kehancuran Pompeii yang begitu tiba-tiba ditandai dengan meletusnya Gunung Vesuvius di Italia, khususnya kota Naples.

Gunung yang telah membisu sejak 2000 tahun yang lalu itu juga dinamai “The Mountain of Warning” (Gunung Peringatan). Bencana yang menimpa penduduk Sodom dan Gomorah, kaumnya Nabi Luth sangat serupa dengan kota Pompeii yang dihancurkan Sang Angkara Murka. Di sebelah kanan Gunung Vesuvius terdapat kota Naples, sedangkan Kota Pompeii berada di sebelah timur gunung tersebut.

Gunung Vesuvius menurut legenda berarti “Putra Zeus alias Hercules. Terletak di kawasan Campagnia dekat Teluk Napoli, tak jauh dari industry dan perdagangan Pompeii yang ketika itu berpenduduk lebih dari 20 ribu jiwa. Tak jauh dari sana, juga terdapat kota peristirahatan musim panas, Herculaneum, yang dipenuhi villa, pemandian ala Romawi, dan juga perjudian, disekitarnya terdapat perkebunan anggur yang luas.

Letusan pada tanggal 24 Agustus 79 diawali oleh sebuah gempa besar pada tahun 62. Tetapi bangsa Romawi pada masa itu tidak menghubungkan gempa dengan aktivitas gunung berapi. Barangkali mereka merasa terbiasa dengan guncangan baik dalam skala kecil maupun besar.

Menjelang tengah hari, pada 24 Agustus, Gunung Vesuvius meletus, menghamburkan gumpalan abu tebal yang menyerupai jamur atau pohon cemara. Seperti digambarkan oleh Pliny The Younger, filsuf yang berada di Teluk Napoli dalam suratnya: abu terlempar jauh tinggi ke atas seperti batang, lalu melebar dan akhirnya berhamburan ke bumi.

Tinggi semburan diduga mencapai 30 kilometer, dan selama hampir 12 jam kemudia, Pompeii seperti dilapisi abu dan kerikil vulkanis setebal beberapa meter.

Penduduk Pompeii panik dan mulai mulai mengungsi ke luar kota, menyisakan 2000 orang yang masih bertahan dalam lubang-lubang persembunyian, sambil menanti letusan gunung berakhir.

Namun, keesokan harinya, mereka tewas karena keracunan setelah menghirup gas dan abu vulkanis. Gumpalan abu dan gas diikuti alitan lava dan bebatuan menenggalamkan kota itu hingga lebih dari 20 meter.
Suhu yang mencapai 400 derajar Celcius membuat benda organic seperti tubuh manusia menghangus, bahkan meledak.  Kawasan yang menderita kerusakan paling parah adalah kawasan di selatan dan tenggara gunung itu. Jumlah keseluruhan korban yang tewas mencapai 10 ribu orang.

Akibat Perilaku Manusia
Pemusnahan Pompeii dari muka bumi dengan bencana yang dahsyat disebakan karena perilaku manusia itu sendiri. Kota itu diwarnai dengan segala kemaksiatan dan kemungkaran. Prostitusi seperti wabah, di mana organ-organ kemaluan pria digantung di pintu-pintu tempat prostitusi tersebut.

Lava Gunung Vesuvius meluluhlantakkan seluruh kota Pompeii dalam sekejap. Tak seorang pun yang selamat dari maut yang mengerikan. Terlihat bekas bencana itu, tubuh-tubuh yang tergeletak bersama pasangannya seperti sedang bersetubuh.

Yang paling mengejutkan adalah terdapat beberapa pasangan sejenis atau homoseksual. Hasil penggalian fosil menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang menunjukkan ekspresi keterkejutan dan ketakutan.

Kendati telah diberi peringatan yang amat sangat mengerikan, tetap saja tak banyak berubah di wilayah dimana Pompeii dulu pernah ada. Distrik-distrik Naples, tidak jauh berbeda dengan distrik-distrik lainnya di Pompeii. Pulau Capri adalah tempat dimana kaum homoseksual dan nudis (telanjang tanpa busana) tinggal di pulau tersebut. Bahkan Pulau Capri dipromosikan sebagai “surga kaum homoseks” di industri wisata.

Pompeii dan Herculaneum ternyata tak pernah dibangun kembali oleh para penduduknya di kemudian hari, hingga secara kebetulan ditemukan kembali pada abad ke-18. Gunung Vesuvius kini masih berdiri tegak. Gunung itu masih sempat meletus puluhan kali hingga terakhir kalinya pada tahun 1944.

Walaupun tinggi puncaknya hanya 1.281 meter dari permukaan laut, satu-satunya gunung berapi di benua Eropa yang masih aktif ini akan selalu mengingatkan  akan ganasnya alam yang dapat memusnahkan sebuah kota,  kapan saja, yang tak pernah diduga sebelumnya.

Terlebih jika manusia itu menentang dan melawan hukum Tuhan. Bukan tidak mungkin, sejarah akan kembali terulang seperti hancurnya Kota Sodom dan Kota Pompeii. Sebuah tragedi yang amat sangat mengerikan.

No comments :

Post a Comment